WhatsApp: +62 ​813 8778 1400

Phone: +62 322 622 129

Koordinat: ​6°52'02"S 112°25'24"E

Fax: +62 322 622 428

 Dock@DPL
Ilustrasi Kora-Kora Ternate membawa pasukan Sultan Baabullah melintasi perairan Maluku.

Kora-Kora Ternate: Armada yang Membawa Perlawanan Sultan Baabullah Melintasi Maluku

Di sebuah kepulauan yang dipisahkan oleh laut, kekuatan sebuah kerajaan tidak cukup hanya berdiri di daratan. Pasukan harus dapat berpindah dari satu pulau ke pulau lain, pesan harus sampai dengan cepat, jalur perdagangan perlu dijaga, dan sekutu yang tersebar di berbagai wilayah harus tetap terhubung. Bagi Kesultanan Ternate pada abad ke-16, laut karena itu bukan sekadar batas wilayah, melainkan jalur utama yang menyatukan kekuasaan.

Salah satu kapal yang bergerak melalui jaringan tersebut adalah kora-kora, perahu panjang yang mengandalkan banyak pendayung dan dikenal di berbagai bagian Maluku. Dalam perang, bentuknya yang ramping dan kemampuannya membawa banyak orang menjadikannya sesuai untuk memindahkan pasukan dan bergerak cepat antarpulau. Ketika Sultan Baabullah memimpin perlawanan terhadap Portugis setelah 1570, kapal-kapal seperti inilah yang membantu membawa kekuatan Ternate jauh melampaui pantai pulaunya sendiri.

Kora-kora tentu tidak sendirian memenangkan perang. Namun tanpa kemampuan untuk memindahkan manusia, perbekalan, dan kekuatan militer melalui laut, sulit membayangkan bagaimana perlawanan Ternate dapat berkembang dari pengepungan sebuah benteng menjadi konflik yang menjangkau berbagai pulau di Maluku.

WA Channel PT Dok Pantai Lamongan

Semuanya Berubah pada 1570

Hubungan Ternate dengan Portugis sebenarnya telah berlangsung selama beberapa dekade sebelum Sultan Baabullah naik takhta. Portugis tiba di Maluku pada awal abad ke-16 dengan ketertarikan besar terhadap cengkeh, komoditas bernilai tinggi yang menjadi salah satu dasar penting perdagangan internasional kawasan tersebut. Ternate merupakan salah satu pusat utama produksinya.

Hubungan yang pada awalnya dibangun melalui perdagangan dan aliansi kemudian semakin dipenuhi ketegangan. Portugis membangun benteng di Ternate, terlibat dalam politik kerajaan, dan berusaha memperkuat kedudukannya dalam perdagangan rempah. Pada masa Sultan Hairun, ayah Baabullah, hubungan kedua pihak semakin memburuk hingga mencapai titik krisis pada 1570.

Sultan Hairun datang ke benteng Portugis setelah menerima undangan dari pihak Portugis. Di sana ia dibunuh atas perintah kapten Portugis Diogo Lopes de Mesquita. Pembunuhan seorang sultan di dalam benteng yang seharusnya menjadi tempat pertemuan mengubah hubungan kedua pihak secara drastis.

Baabullah kemudian menggantikan ayahnya sebagai Sultan Ternate dan memimpin perlawanan terhadap Portugis. Konflik yang menyusul tidak hanya bertujuan membalas kematian Hairun, tetapi berkembang menjadi usaha untuk melemahkan posisi politik dan militer Portugis di wilayah pengaruh Ternate. Benteng Portugis di Ternate menjadi sasaran utama, meskipun perang tidak berhenti di depan tembok benteng tersebut.

Kora-Kora Bukan Nama Satu Kapal

Seperti Kapal Borobudur dan Jong Pati Unus yang telah dibahas sebelumnya, istilah Kora-Kora Ternate juga perlu dipahami dengan hati-hati. Nama tersebut bukan merujuk pada satu kapal pribadi milik Sultan Baabullah, melainkan pada jenis perahu panjang yang digunakan di kawasan Maluku.

Dalam sumber lama, istilah ini juga ditemukan dalam bentuk cora-cora. Kapal sejenis digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari transportasi manusia, perjalanan antarpulau, hingga operasi perang. Pada periode yang lebih kemudian, tradisi kapal panjang berdayung juga berkaitan dengan pelayaran hongi dalam konteks kolonial.

Ilustrasi variasi ukuran Kora-Kora Maluku dengan lambung panjang, platform pendayung, dan struktur tengah.
Ilustrasi variasi ukuran Kora-Kora Maluku yang menunjukkan kesamaan bentuk dasar dengan kapasitas dan jumlah pendayung yang berbeda. Ilustrasi: DPL.

Bentuk dan ukuran kora-kora tidak selalu seragam. Sebagian dapat membawa puluhan pendayung, sementara kapal yang lebih besar mampu mengangkut jumlah manusia yang jauh lebih banyak. Sumber sejarah juga memperlihatkan hubungan istilah dan bentuk dengan jenis kapal Maluku lain seperti juanga, sehingga batas teknis antara setiap nama kapal tidak selalu mudah ditentukan secara pasti.

See also  Kapal Borobudur: Ketika Relief Berusia Lebih dari Seribu Tahun Kembali Berlayar

Meski demikian, karakter dasarnya cukup jelas. Kora-kora merupakan kapal yang panjang, relatif ramping, dan mengandalkan banyak pendayung. Beberapa menggunakan layar untuk membantu perjalanan, sementara kapal yang lebih besar dapat memiliki ruang atau platform di bagian tengah untuk membawa penumpang, prajurit, pemimpin ekspedisi, maupun perlengkapan.

Kapal Panjang untuk Dunia Pulau

Untuk memahami mengapa bentuk seperti ini penting, kita perlu melihat geografi Maluku. Ternate merupakan satu pulau vulkanik di tengah jaringan pulau yang jauh lebih luas, dengan Tidore dan Halmahera di sekitarnya, sementara Bacan, Obi, Seram, Ambon, Buru, dan banyak pulau lain tersebar ke arah selatan.

Dalam lingkungan seperti itu, kekuasaan tidak dapat dijalankan hanya dari satu pusat daratan. Perintah dari sultan baru memiliki arti apabila pasukan, utusan, sekutu, dan kebutuhan logistik dapat bergerak dari satu pulau menuju pulau lainnya. Karena itu, laut justru berfungsi sebagai jalur utama yang menghubungkan berbagai wilayah.

Ilustrasi Kora-Kora Ternate bergerak melalui selat dan gugusan pulau vulkanik di Maluku.
Ilustrasi Kora-Kora bergerak melalui selat dan gugusan pulau vulkanik yang membentuk lanskap maritim Maluku. Ilustrasi: DPL.

Karakter kora-kora sangat sesuai dengan kebutuhan tersebut. Lambung yang panjang memungkinkan banyak pendayung ditempatkan di kedua sisi, sementara tenaga manusia membuat kapal tidak sepenuhnya bergantung pada arah angin. Kapal juga dapat mendekati pantai, bergerak melalui selat antarpulau, dan membawa kelompok prajurit langsung menuju lokasi operasi.

Untuk perjalanan yang lebih panjang, penggunaan layar dapat membantu mengurangi ketergantungan pada tenaga pendayung. Dengan demikian, kora-kora bukan kapal yang kebetulan digunakan di Maluku; bentuknya justru mencerminkan kebutuhan nyata masyarakat kepulauan yang bergantung pada mobilitas laut.

Pengepungan yang Berlangsung Lima Tahun

Setelah kematian Sultan Hairun, posisi Portugis di Ternate berubah secara drastis. Baabullah dan para pendukungnya mengepung benteng Portugis, dan tekanan tersebut berlangsung dari sekitar 1570 hingga penyerahan benteng pada 1575.

Lima tahun tentu merupakan waktu yang sangat panjang untuk sebuah pengepungan. Namun peristiwa ini tidak perlu dibayangkan sebagai serangan terus-menerus terhadap tembok benteng selama seluruh periode tersebut. Strateginya lebih luas, karena kekuatan Portugis juga perlu dipisahkan dari jaringan yang menopang keberadaan mereka di Maluku.

Benteng dapat memiliki tembok dan persenjataan, tetapi penghuninya tetap membutuhkan makanan, komunikasi, kapal, pasukan, dan hubungan dengan wilayah lain. Karena itu, dalam perang kepulauan, kemampuan mengendalikan jalur laut di sekitar benteng dapat sama pentingnya dengan menyerang benteng itu sendiri.

Sementara tekanan terhadap kedudukan Portugis di Ternate terus berlangsung, pasukan dan kapal Ternate bergerak ke wilayah lain. Dengan cara inilah konflik berkembang menjadi perang yang lebih luas dan menempatkan armada sebagai salah satu unsur utama dalam mempertahankan tekanan terhadap Portugis.

Ketika Armada Ternate Bergerak ke Ambon

Salah satu arah penting operasi Ternate adalah kawasan Ambon dan Seram. Portugis memiliki kepentingan kuat di sana dan berusaha mempertahankan jaringan perdagangan serta komunitas yang mendukung mereka. Karena itu, wilayah Maluku Tengah menjadi salah satu ruang konflik yang penting setelah perang pecah pada 1570.

Sumber-sumber sejarah mencatat kehadiran kora-kora besar dalam ekspedisi Ternate menuju kawasan tersebut. Pertempuran tidak selalu berpihak kepada Ternate; beberapa operasi mengalami kegagalan dan terdapat pula panglima yang gugur dalam pertempuran laut. Meski demikian, tekanan terus berlanjut melalui kampanye berikutnya.

See also  Lancaran Lingga: Kapal Perang Melayu yang Dibuat untuk Dunia Selat

Ternate kemudian memperluas pengaruh militernya ke Hoamoal di Seram dan sejumlah wilayah lain di Maluku Tengah. Dalam konteks seperti ini, kora-kora berfungsi lebih dari sekadar kapal yang bertarung dengan kapal lawan. Kapal tersebut membawa pasukan, menghubungkan pangkalan, memindahkan kekuatan dari satu pulau ke pulau lain, dan membantu mempertahankan jaringan politik Ternate yang tersebar melalui laut.

Dengan kata lain, kora-kora merupakan bagian dari sistem mobilitas militer, bukan hanya kendaraan tempur.

Kecepatan Bisa Lebih Penting daripada Ukuran

Perairan Nusantara pada abad ke-16 memperlihatkan kapal dengan karakter yang sangat berbeda. Jong dapat tumbuh menjadi kapal besar dengan kapasitas angkut tinggi, sementara ghali menggabungkan tenaga pendayung dengan artileri dan struktur perang yang lebih berat. Lancaran menawarkan fleksibilitas untuk perairan selat dan sungai.

Kora-kora mengambil pendekatan lain. Lambungnya yang panjang dan relatif ringan memungkinkan banyak tenaga pendayung diterjemahkan menjadi kecepatan dan mobilitas. Kapal tidak perlu membawa struktur sebesar jong atau persenjataan seberat kapal perang tipe galai untuk tetap memiliki nilai strategis.

Dalam perang antarpulau, kemampuan semacam itu dapat sangat menentukan. Tugas penting sebuah kapal tidak selalu berupa duel dengan kapal musuh; sering kali yang lebih dibutuhkan adalah mengangkut pasukan dengan cepat, mengejar kapal yang mundur, menyampaikan perintah, menghubungkan wilayah, atau mendaratkan prajurit di lokasi tertentu.

Karena itu, ukuran terbesar belum tentu menjadi keunggulan utama. Dalam banyak situasi, kapal yang paling berguna justru kapal yang paling sesuai dengan kebutuhan operasinya.

Armada Bukan Hanya Milik Sultan

Kekuatan maritim Maluku juga berbeda dari gambaran armada negara modern yang seluruh kapalnya dimiliki dan dioperasikan langsung oleh satu pemerintahan pusat. Kerajaan bekerja melalui jaringan komunitas, pemimpin lokal, sekutu, dan wilayah yang terhubung melalui hubungan politik maupun kewajiban tertentu.

Ilustrasi armada Kora-Kora Ternate bergerak bersama melintasi perairan antarpulau di Maluku.
Ilustrasi armada Kora-Kora Ternate bergerak antarpulau sebagai bagian dari jaringan mobilitas maritim kerajaan. Ilustrasi: DPL.

Dalam sistem seperti ini, kapal dan manusia dapat dihimpun dari berbagai negeri untuk mendukung sebuah ekspedisi. Kemampuan seorang sultan karena itu tidak hanya diukur dari jumlah kapal yang berada di satu pelabuhan, tetapi juga dari seberapa jauh ia mampu menggerakkan jaringan politiknya untuk menyediakan kapal, pendayung, prajurit, makanan, serta dukungan lainnya.

Pada masa Baabullah, pengaruh Ternate berkembang semakin luas di Maluku dan kawasan sekitarnya. Kora-kora membantu mengubah jaringan politik tersebut menjadi kekuatan yang dapat bergerak secara nyata dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Namun kemampuan itu tetap bergantung pada logistik. Setiap kapal membutuhkan awak dan pendayung, setiap perjalanan memerlukan makanan dan air, sementara kapal yang rusak harus diperbaiki sebelum dapat kembali digunakan. Di balik armada yang terlihat kuat di laut, terdapat pekerjaan besar untuk memastikan seluruh sistem tetap berfungsi.

1575: Portugis Meninggalkan Ternate

Pada 1575, lima tahun setelah kematian Sultan Hairun, pertahanan Portugis di Ternate akhirnya mencapai titik akhir. Garnisun Portugis menyerahkan benteng kepada Sultan Baabullah dan meninggalkan kedudukan mereka di pulau tersebut.

Portugis kemudian memusatkan kekuatannya di wilayah lain, termasuk Ambon dan Tidore. Sementara itu, benteng yang sebelumnya menjadi simbol kehadiran Portugis berpindah ke tangan Ternate dan kemudian digunakan serta dimodifikasi oleh pihak kesultanan.

Kemenangan ini memiliki arti penting. Portugis datang ke Maluku sebagai salah satu kekuatan laut Eropa yang berpengalaman, dengan kapal samudra, artileri, jaringan perdagangan internasional, dan pengetahuan membangun benteng di berbagai wilayah Asia. Namun keunggulan tersebut tidak membuat posisi mereka di Ternate menjadi permanen.

See also  CSR DPL di Desa Sidokelar: Kepedulian untuk Generasi Muda

Baabullah dapat memanfaatkan unsur yang menjadi kekuatan kerajaan kepulauan: jaringan politik lokal, kemampuan memobilisasi pasukan, pengetahuan terhadap medan, serta armada yang mampu bergerak di antara pulau-pulau. Karena itu, kemenangan tersebut bukan hasil satu kapal atau satu pertempuran, melainkan hasil tekanan yang dipertahankan selama bertahun-tahun dalam ruang perang yang tersebar di laut dan daratan.

Setelah Portugis Pergi, Laut Tetap Terbuka

Pengusiran Portugis dari Ternate tidak berarti bahwa Baabullah menutup kerajaannya terhadap dunia luar. Perdagangan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan Ternate, sementara kapal dan pedagang asing tetap datang ke wilayah tersebut.

Ketika Francis Drake tiba di Ternate pada 1579, ia memasuki sebuah kerajaan yang sedang berada dalam periode kekuatan politik yang besar. Pertemuannya dengan Sultan Baabullah kemudian menjadi salah satu catatan Eropa yang cukup dikenal mengenai Ternate pada masa itu.

Kondisi ini menunjukkan bahwa perlawanan terhadap Portugis bukan penolakan terhadap perdagangan internasional ataupun terhadap seluruh pendatang asing. Persoalan utamanya adalah siapa yang memegang kendali terhadap hubungan perdagangan, wilayah, dan kekuasaan politik di Maluku.

Ternate telah terhubung dengan jaringan perdagangan jauh sebelum Portugis tiba. Cengkeh dari Maluku bergerak melalui berbagai pedagang dan pelabuhan Asia menuju pasar yang sangat jauh. Setelah 1575, jaringan itu tetap penting, tetapi Ternate berusaha berada di dalamnya sebagai kekuatan yang memiliki kendali lebih besar atas kepentingannya sendiri.

Dari Kapal Perang Menjadi Warisan Budaya

Berabad-abad setelah masa Baabullah, tradisi kapal panjang berdayung tidak sepenuhnya menghilang dari Maluku. Bentuk perahu yang dikenal sebagai kora-kora atau belang tetap hadir dalam berbagai kegiatan budaya di sejumlah komunitas.

Fungsi militernya tentu telah berubah, tetapi beberapa karakter utamanya tetap dapat dikenali: bentuk lambung yang panjang, jumlah pendayung yang besar, ritme gerak bersama, serta hubungannya dengan identitas suatu negeri atau komunitas. Perubahan fungsi seperti ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat bertahan ketika masyarakat memberinya makna baru.

Ilustrasi tradisi Kora-Kora masa kini dengan para pendayung bergerak serempak di perairan Ternate.
Ilustrasi tradisi Kora-Kora masa kini dengan para pendayung bergerak serempak di perairan Ternate. Ilustrasi: DPL.

Kapal yang dahulu digunakan untuk membawa manusia dalam operasi perang kini dapat hadir sebagai simbol budaya dan ingatan kolektif. Dengan demikian, yang bertahan bukan hanya bentuk fisik perahunya, tetapi juga cerita tentang masyarakat kepulauan, hubungan mereka dengan laut, dan pentingnya kerja bersama di atas sebuah kapal.

Jejak yang Masih Berlayar

Kora-Kora Ternate menunjukkan bahwa kekuatan sebuah kapal selalu berkaitan dengan lingkungan tempat kapal itu bekerja. Di Maluku, laut memisahkan pulau sekaligus menghubungkannya, sehingga dibutuhkan kapal yang mampu membawa banyak manusia, bergerak cepat, mendekati pantai, dan berpindah dari satu jalur perairan ke jalur lainnya tanpa bergantung sepenuhnya pada angin.

Pada masa Sultan Baabullah, kemampuan tersebut menjadi bagian dari sistem yang lebih luas. Kapal, pendayung, prajurit, sekutu, pelabuhan, perbekalan, dan pengetahuan tentang perairan harus bekerja bersama agar sebuah operasi dapat berlangsung. Inilah yang membuat kisah kora-kora lebih menarik daripada sekadar bentuk kapalnya.

Dunia maritim modern tentu telah berubah. Tenaga manusia digantikan mesin, navigasi berkembang menjadi sistem elektronik, dan kapal dapat berukuran jauh lebih besar dibandingkan kapal abad ke-16. Namun prinsip dasarnya masih dapat dikenali: kapal harus sesuai dengan pekerjaannya, armada membutuhkan dukungan, dan operasi maritim bergantung pada kesiapan seluruh sistem.

Lebih dari empat abad lalu, kora-kora membantu membawa sistem tersebut melintasi perairan Maluku. Dari satu pulau menuju pulau berikutnya, kapal-kapal panjang itu menjadi bagian dari kekuatan Ternate pada masa ketika laut merupakan medan utama dalam perebutan kendali atas dunia rempah.

WA Channel PT Dok Pantai Lamongan