Jika jalan raya membentuk banyak kota modern, sungai melakukan pekerjaan serupa di Kalimantan Selatan selama berabad-abad. Permukiman tumbuh mengikuti aliran air, perdagangan bergerak dari dermaga ke dermaga, dan kebutuhan sehari-hari diangkut menggunakan perahu.
Bagi masyarakat Banjar, sungai karena itu bukan sekadar bagian dari lanskap. Sungai merupakan jalur transportasi, ruang ekonomi, tempat mencari ikan, dan bagian dari kehidupan sosial. Di tengah sistem tersebut, salah satu alat transportasi yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat adalah jukung.
Bentuknya tidak semegah jong atau ghali. Jukung juga tidak dirancang untuk menyeberangi samudra seperti Padewakang. Namun dalam dunia sungai, ukuran besar memang bukan tujuan utama.
Jukung harus mampu masuk ke alur yang sempit, mendekati rumah, membawa hasil kebun, mengangkut orang, dan tetap mudah dikendalikan. Karena itu, kapal kecil ini justru memperlihatkan sesuatu yang penting dalam sejarah maritim Nusantara: tidak semua kekuatan perairan lahir di laut terbuka.
Ketika Sungai Menjadi Infrastruktur
Banjarmasin dikenal melalui hubungan yang sangat erat dengan sungai. Sungai Barito, Martapura, serta berbagai anak sungainya membentuk jaringan pergerakan yang menghubungkan permukiman dan pusat ekonomi.

Hubungan tersebut tidak hanya berlaku di kota. Di berbagai bagian Kalimantan Selatan, Sungai Negara, Amandit, Tabalong, dan jaringan perairan lain juga menjadi jalur mobilitas masyarakat. Karena itu, orientasi kehidupan berkembang mengikuti sungai. Kesultanan Banjar
Jejaknya masih dapat dibaca melalui pola permukiman lama. Rumah-rumah di tepian sungai dibangun berderet mengikuti aliran air. Banyak rumah bahkan menghadap ke sungai, bukan membelakanginya seperti yang mungkin dibayangkan dari perspektif jalan raya modern. Wikimedia Commons
Logikanya sederhana. Jika jalur utama berada di air, maka bagian depan rumah tentu menghadap ke arah datangnya manusia dan barang.
Dengan demikian, sungai berfungsi hampir seperti kombinasi jalan raya, pasar, halaman depan, dan jalur distribusi. Jukung kemudian menjadi kendaraan yang membuat sistem tersebut bergerak.
Jukung Bukan Nama Satu Bentuk Perahu
Istilah jukung tidak menunjuk pada satu desain kapal yang selalu sama. Dalam bahasa dan budaya Banjar, istilah tersebut digunakan untuk berbagai jenis perahu yang berkembang sesuai kebutuhan masyarakat.
Kajian mengenai perahu di cekungan Barito bahkan mendokumentasikan banyak variasi jukung. Perbedaan muncul pada ukuran, konstruksi, bentuk haluan, buritan, sistem penggerak, dan fungsi. Erik Petersen membahas keragaman tersebut secara khusus dalam Jukung-Boats from the Barito Basin, Borneo, yang diterbitkan Viking Ship Museum pada 2000. Vikingeskibsmuseet
Sumber lokal juga mengenal nama seperti jukung sudur, patai, batambit, tambangan, tiung, palanjaan, dan berbagai bentuk lainnya. Beberapa digunakan untuk membawa barang, sementara jenis lain lebih cocok untuk memancing atau mengangkut penumpang. Wikimedia Commons
Karena itu, menyebut “Jukung Banjar” sebenarnya mirip menyebut sebuah keluarga teknologi. Bentuknya berubah mengikuti pekerjaan yang harus dilakukan.
Jukung yang kita gunakan dalam seri ini mewakili karakter perahu sungai Banjar yang panjang, ramping, rendah, dan praktis. Namun bentuk tersebut tidak boleh dianggap sebagai satu-satunya desain jukung yang pernah ada.
Bentuk Kapal Mengikuti Bentuk Sungai
Perahu untuk sungai mempunyai tantangan berbeda dari kapal laut.
Sebuah kapal samudra harus menghadapi gelombang besar dan membawa perbekalan untuk perjalanan panjang. Sebaliknya, jukung sering bekerja di perairan yang lebih tenang tetapi jauh lebih terbatas ruang geraknya.
Alur dapat menyempit. Kedalaman air berubah mengikuti musim. Selain itu, kapal harus dapat mendekati tepian, masuk ke anak sungai, dan berhenti tepat di depan rumah atau pasar.
Karena itu, bentuk memanjang dan relatif sempit menawarkan keuntungan. Jukung dapat bergerak di jalur air yang tidak memungkinkan kapal besar masuk. Pengemudinya juga dapat mengendalikan kapal pada kecepatan rendah dengan dayung atau alat penggerak sederhana.
Draft yang relatif dangkal juga membantu ketika kapal beroperasi dekat tepian atau kawasan rawa. Dengan demikian, desain jukung merupakan respons terhadap lingkungan yang sangat spesifik.
Prinsipnya sama seperti kapal-kapal lain dalam seri ini. Bentuk kapal selalu mempunyai hubungan dengan tempat ia bekerja.
Dari Sebatang Kayu Menjadi Kerongkong Jukung
Salah satu bagian paling menarik dari tradisi jukung terdapat pada proses pembuatannya.

Di Pulau Sewangi dan jaringan pengrajin di sekitarnya, proses pembuatan jukung masih mempertahankan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun. Penelitian Universitas Lambung Mangkurat mencatat penggunaan dasar lambung atau kerongkong jukung yang berasal dari kayu berukuran besar. Kesultanan Banjar
Dalam salah satu teknik, kayu terlebih dahulu dibentuk menyerupai badan perahu. Setelah itu, proses pemanasan membantu membuka dan melebarkan bagian tersebut. Pengrajin kemudian membentuknya menjadi dasar lambung yang sesuai dengan ukuran jukung yang dibutuhkan. Kesultanan Banjar
Namun proses tersebut bukan akhir pekerjaan. Kerongkong masih harus mendapatkan bagian tambahan, penguatan, serta penyelesaian bentuk haluan dan buritan. Alat seperti beliung, parang, ketam, pahat, dan berbagai pola tradisional digunakan selama pengerjaan. Kesultanan Banjar
Teknik ini menunjukkan hubungan menarik antara material dan desain. Pengrajin tidak memaksa kayu menjadi bentuk sembarang. Sebaliknya, mereka memahami bagaimana kayu dapat dibuka, dibentuk, dan diperkuat tanpa kehilangan fungsi utamanya.
Tidak Semua Jukung Dibuat dengan Cara yang Sama
Perkembangan jukung tidak berhenti pada bentuk perahu dari satu batang kayu.
Seiring kebutuhan muatan meningkat, masyarakat Banjar juga mengembangkan perahu dengan tambahan papan. Beberapa jenis bahkan berkembang menjadi kapal angkut yang jauh lebih besar. Sumber kebudayaan Banjar mencatat keberadaan jukung papan serta bentuk yang kemudian berkembang menjadi bus air, kapal dagang, dan taksi air. Kesultanan Banjar
Perubahan tersebut penting karena menunjukkan bahwa teknologi sungai tidak bersifat statis. Bentuk dasar dapat diperbesar, diperkuat, atau dimodifikasi ketika pekerjaan berubah.
Kemudian motor juga mulai digunakan. Banyak perahu yang sebelumnya digerakkan dengan dayung berkembang menjadi kelotok, yakni perahu bermotor yang sangat familiar di Kalimantan Selatan.
Jadi, garis antara “tradisional” dan “modern” sebenarnya tidak selalu tegas. Sebuah teknologi dapat berubah secara bertahap tanpa langsung kehilangan seluruh identitas lokalnya.
Pulau Sewangi dan Pengetahuan Membuat Jukung
Salah satu tempat yang masih dikenal karena tradisi pembuatan jukung adalah Desa Pulau Sewangi di Kabupaten Barito Kuala.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa desa tersebut tetap menjadi salah satu sentra pengrajin jukung Banjar. Keahlian membuat kapal diwariskan melalui keluarga dan lingkungan kerja, sehingga pengetahuan tidak hanya tersimpan dalam buku atau gambar teknik. Journal of Engineering Educators
Seorang pengrajin memahami bentuk yang tepat melalui pengalaman bekerja dengan kayu. Ia mengetahui bagian mana yang dapat ditipiskan, bagaimana lengkung lambung dibentuk, dan bagaimana keseimbangan kapal dipertahankan.
Selain kemampuan teknis, proses tersebut juga memiliki dimensi sosial. Penelitian mengenai pengrajin Pulau Sewangi menemukan nilai gotong royong, kebersamaan, dan hubungan kekeluargaan dalam kegiatan pembuatan jukung. Kesultanan Banjar
Dengan demikian, sebuah jukung tidak hanya menyimpan pengetahuan mengenai kapal. Ia juga menyimpan cara sebuah komunitas bekerja dan meneruskan keterampilan.
Pasar Terapung: Ketika Perahu Menjadi Lapak
Mungkin tidak ada gambaran yang lebih mudah menunjukkan fungsi jukung daripada pasar terapung.
Di Lok Baintan, pedagang menggunakan jukung sebagai alat transportasi sekaligus tempat berdagang. Buah, sayur, hasil kebun, dan berbagai kebutuhan dibawa langsung di atas perahu. Transaksi kemudian berlangsung dari satu kapal ke kapal lain. PPJP ULM

Dalam situasi ini, jukung menjalankan beberapa fungsi sekaligus. Kapal membawa barang dari tempat produksi, mengantarkan pedagang menuju lokasi pasar, lalu berubah menjadi lapak ketika perdagangan dimulai.
Tidak diperlukan gedung pasar dalam pengertian biasa. Ruang perdagangannya justru terbentuk ketika banyak jukung berkumpul di sungai.
Selain itu, sistem tersebut menunjukkan betapa dekatnya jaringan produksi dan transportasi. Hasil kebun dapat dibawa dari kawasan pertanian melalui jalur air tanpa harus dipindahkan ke kendaraan darat terlebih dahulu. PPJP ULM
Jukung karena itu bukan hanya alat menuju pasar. Jukung adalah bagian dari pasar itu sendiri.
Kapal Kecil dengan Banyak Pekerjaan
Fungsi jukung tidak berhenti pada perdagangan.
Penelitian di Lok Baintan menunjukkan jukung juga digunakan untuk membawa hasil pertanian, menangkap ikan, dan memberikan jasa angkutan. Sumber lain mengenai masyarakat Banjar mencatat pemanfaatannya untuk mengangkut barang, manusia, pasir, batu, dan berbagai kebutuhan lainnya. PPJP ULM
Keragaman tersebut menjelaskan mengapa bentuk jukung ikut beragam. Kapal untuk berdagang tidak selalu membutuhkan konfigurasi yang sama dengan kapal untuk menangkap ikan. Demikian pula jukung penumpang mempunyai kebutuhan berbeda dari kapal pengangkut barang.
Dalam dunia modern, kita terbiasa melihat klasifikasi kapal berdasarkan fungsi. Ada tanker, kapal kontainer, tugboat, ferry, dan jenis lain.
Logika yang sama sebenarnya sudah lama muncul pada jukung. Skala kapalnya lebih kecil, tetapi prinsip desainnya tetap serupa: fungsi menentukan bentuk dan perlengkapan.
Kehidupan Sungai Membentuk Kota
Jukung juga membantu kita memahami mengapa Banjarmasin dan wilayah Banjar tidak dapat dibaca hanya melalui peta jalan darat.
Dalam masyarakat sungai, tepian air merupakan ruang interaksi. Rumah, pasar, tempat kerja, dan jalur transportasi tumbuh mengikuti aliran sungai.
Penelitian tentang budaya sungai di Lok Baintan menunjukkan bahwa sungai berfungsi sebagai koridor pergerakan sekaligus ruang aktivitas ekonomi. Nilai sungai karena itu tidak hanya ekologis, tetapi juga sosial dan ekonomi. Repo Dosen
Pola tersebut menjelaskan keberadaan rumah panggung, lanting, titian, serta tempat menambatkan perahu di depan rumah. Infrastruktur kehidupan disusun dengan asumsi bahwa air merupakan jalur utama.
Namun ketika jalan raya berkembang, asumsi tersebut mulai berubah.
Perlahan-lahan, bagian depan kehidupan berpindah dari sungai menuju jalan.
Ketika Jalan Darat Mengubah Peran Jukung
Perubahan jaringan transportasi membawa konsekuensi besar bagi jukung.
Jalan dan jembatan membuat perjalanan dengan sepeda motor, mobil, atau truk menjadi lebih praktis untuk banyak kebutuhan. Selain itu, speedboat dan kapal bermotor menawarkan alternatif transportasi yang lebih cepat di jalur air.
Akibatnya, permintaan terhadap beberapa jenis jukung mulai menurun. Penelitian industri jukung di Pulau Sewangi pada periode 2010–2022 menunjukkan bahwa perkembangan transportasi darat merupakan salah satu penyebab utama penurunan produksi. Journal of Engineering Educators
Masalah lain datang dari material. Kayu berkualitas semakin sulit diperoleh dan harganya meningkat. Jenis kayu seperti ulin dan cangal yang dahulu banyak digunakan kini jauh lebih langka. Kesultanan Banjar
Dengan demikian, tantangan jukung muncul dari dua arah sekaligus. Kebutuhan terhadap kapalnya menurun, sementara biaya dan kesulitan produksinya meningkat.
Ketika Sebuah Keahlian Ikut Terancam Hilang
Jika sebuah kendaraan tidak lagi digunakan, yang hilang sebenarnya bukan hanya bendanya.
Pengetahuan untuk membuatnya juga dapat ikut menghilang.
Seorang pengrajin jukung membutuhkan pengalaman untuk memahami kayu, proporsi, keseimbangan, dan tahapan konstruksi. Keterampilan seperti itu sulit dipertahankan apabila pesanan semakin sedikit dan generasi berikutnya tidak melihat masa depan ekonomi di dalam pekerjaan tersebut.
Penelitian di Pulau Sewangi menunjukkan kondisi ini secara nyata. Modernisasi transportasi dan berkurangnya permintaan memengaruhi keberlangsungan profesi pembuat jukung. Digital Library ULM
Karena itu, pelestarian jukung tidak cukup dilakukan dengan menyimpan satu perahu di museum. Sebuah jukung yang dipamerkan dapat mempertahankan bentuknya, tetapi tidak otomatis mempertahankan kemampuan membuatnya.
Warisan teknologinya baru benar-benar hidup jika pengetahuan tersebut masih dapat dipraktikkan.
Tradisi Bertahan Ketika Masih Berguna
Meski perannya berkurang, jukung belum menghilang.
Di Lok Baintan, kapal ini masih digunakan dalam kegiatan ekonomi sehari-hari. Pedagang tetap membawa barang ke pasar terapung, sementara masyarakat tepian sungai masih memanfaatkannya untuk berbagai pekerjaan. PPJP ULM
Kondisi tersebut menunjukkan salah satu cara terbaik sebuah tradisi dapat bertahan: tetap mempunyai fungsi.
Pariwisata memang membantu memperkenalkan pasar terapung dan budaya sungai kepada masyarakat yang lebih luas. Namun nilai jukung tidak seharusnya hanya bergantung pada tampilannya sebagai atraksi.
Selama kapal masih membantu masyarakat bekerja, berdagang, dan bergerak, pengetahuan tentang penggunaannya tetap memiliki ruang untuk diteruskan.
Dengan demikian, pelestarian budaya dan kebutuhan ekonomi sebenarnya dapat berjalan bersama.
Jejak yang Masih Berlayar
Jukung Banjar menunjukkan bahwa sejarah maritim Nusantara tidak hanya berlangsung di laut. Sungai juga menjadi ruang tempat teknologi kapal berkembang sesuai kebutuhan masyarakat.
Di Kalimantan Selatan, bentuk jukung lahir dari lingkungan yang penuh sungai, rawa, tepian dangkal, dan permukiman yang saling terhubung melalui air. Karena itu, kapal dibuat ringan, praktis, mudah dikendalikan, dan dapat disesuaikan untuk banyak pekerjaan.
Selain itu, jukung memperlihatkan hubungan yang erat antara kapal dan infrastruktur. Ketika sungai menjadi jalur utama, perahu berfungsi seperti kendaraan, alat kerja, ruang dagang, dan penghubung sosial sekaligus.
Perubahan menuju transportasi darat kemudian menggeser sebagian fungsi tersebut. Namun prinsip yang mendasarinya masih relevan. Setiap kapal harus dibangun untuk lingkungan, muatan, manusia, dan pekerjaan yang akan dihadapinya.
Jukung tidak membutuhkan ukuran besar untuk memainkan peran penting. Selama berabad-abad, perahu sederhana ini membantu membuat jaringan sungai Kalimantan Selatan bekerja sebagai sebuah sistem transportasi.
Dan mungkin di situlah pelajaran terbesarnya: teknologi maritim yang paling berarti tidak selalu berada di laut terbuka. Kadang-kadang, ia bergerak perlahan di sebuah sungai, membawa hasil kebun menuju pasar sebelum matahari benar-benar terbit.

Berfokus pada digital marketing dan pengembangan konten di PT Dok Pantai Lamongan. Melalui berbagai artikel, membagikan informasi dan insight seputar galangan kapal, ship repair, teknologi kapal, serta perkembangan industri maritim Indonesia.