Pada akhir tahun, angin mulai berubah di perairan Sulawesi Selatan. Para pelaut Makassar kemudian menyiapkan kapal untuk perjalanan jauh ke selatan. Perbekalan, air tawar, perlengkapan kerja, dan kebutuhan selama berbulan-bulan dimuat sebelum keberangkatan.
Ketika muson barat laut tiba, layar dibuka dan pelayaran menuju Australia Utara dimulai. Salah satu kapal yang lekat dengan perjalanan ini adalah padewakang. Kapal kayu dari Sulawesi Selatan tersebut digunakan untuk perdagangan dan pelayaran jarak jauh.
Jauh sebelum pinisi menjadi ikon kapal tradisional Indonesia, padewakang telah menghubungkan banyak wilayah Nusantara. Salah satu rutenya bahkan berkembang hingga pantai utara Australia. Para pelaut Makassar menyebut sebagian wilayah Arnhem Land sebagai Marege’.
Di sana, mereka datang secara musiman untuk mencari teripang yang bernilai tinggi dalam perdagangan Asia. Pelayaran itu bukan ekspedisi sekali jalan. Sebaliknya, perjalanan tersebut berkembang menjadi siklus yang mengikuti musim, pasar, dan pengetahuan tentang angin.
Sebelum Pinisi, Ada Padewakang
Popularitas pinisi membuat kapal tradisional Sulawesi Selatan yang lebih tua sering luput dari perhatian. Padahal, padewakang pernah menjadi salah satu kapal penting dalam jaringan perdagangan Makassar.
Kapal ini memiliki lambung kayu yang relatif lebar dan kokoh. Bentuk tersebut memungkinkan padewakang membawa muatan, manusia, serta perlengkapan untuk perjalanan panjang. Sementara itu, sistem layarnya membantu kapal memanfaatkan pola angin musiman.
Dalam sejumlah dokumentasi historis dan rekonstruksi modern, padewakang menggunakan dua tiang dengan layar tanja. Karakter itu berbeda dari kapal perang seperti kora-kora atau penjajap. Padewakang lebih membutuhkan keseimbangan antara daya angkut, ketahanan, dan kemampuan berlayar.
Karena itu, kapal ini tidak hanya digunakan pada satu rute. Pelaut Sulawesi Selatan membawanya melalui jaringan perdagangan antarpulau yang luas. Perjalanan menuju Australia Utara menjadi salah satu contoh paling menarik dari kemampuan tersebut.
Marege’: Tujuan Jauh di Selatan
Kapan tepatnya pelaut Makassar pertama kali mencapai Australia Utara masih menjadi bahan penelitian. Beberapa cerita populer menempatkan kontak tersebut pada periode yang sangat awal. Namun, bukti sejarah mengenai industri teripang teratur menunjukkan kronologi yang lebih hati-hati.
Catatan perdagangan memperlihatkan bahwa bisnis teripang di Makassar masih berkembang pada dekade 1720-an. Sementara itu, penelitian Campbell Macknight menunjukkan peningkatan kegiatan di Arnhem Land sekitar akhir abad ke-18.
Sekitar 1780 sering digunakan sebagai salah satu titik yang memiliki dukungan sejarah cukup kuat. Karena itu, kita tidak perlu mendorong kronologinya terlalu jauh ke masa lalu. Pelayaran tersebut tetap luar biasa tanpa harus diperbesar melebihi bukti yang tersedia.
Pada masa itu, navigasi belum menggunakan mesin, GPS, atau komunikasi radio. Meski demikian, kapal dari Sulawesi Selatan sudah melakukan perjalanan musiman menuju pesisir benua lain. Bagi mereka, laut di selatan bukan batas dunia, melainkan ruang ekonomi yang dapat dicapai.
Muson Menjadi Jadwal Pelayaran

Padewakang tidak memiliki mesin yang dapat melawan angin setiap saat. Karena itu, keberhasilan pelayaran sangat bergantung pada pemahaman terhadap musim.
Armada biasanya meninggalkan Makassar sekitar Desember atau awal Januari. Pada periode tersebut, muson barat laut membantu perjalanan menuju selatan. Kapal kemudian bergerak melalui Nusa Tenggara dan Timor sebelum menyeberangi laut terbuka.
Perjalanan menuju Arnhem Land dapat berlangsung sekitar dua minggu dalam kondisi yang mendukung. Namun, lamanya tentu bergantung pada angin, rute, dan kondisi kapal. Selain itu, pulau-pulau di sepanjang perjalanan dapat menjadi tempat memperoleh air dan perbekalan.
Setelah bekerja selama beberapa bulan, arah angin kembali menentukan waktu kepulangan. Sekitar Maret atau April, angin tenggara membantu perjalanan kembali ke Makassar. Dengan demikian, muson menjadi bagian dari kalender operasional seluruh kegiatan.
Bagi para pelaut, memahami musim sama pentingnya dengan memahami rute.
Mengapa Teripang Layak Diseberangi?
Tujuan utama perjalanan ke Marege’ bukan penaklukan wilayah. Para pelaut datang terutama untuk mencari teripang.
Hewan laut tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi karena permintaan dari pasar Tiongkok. Makassar kemudian berkembang sebagai salah satu pusat perdagangan hasil laut dari wilayah timur Nusantara. Dari sana, komoditas diteruskan melalui jaringan perdagangan yang lebih luas.
Ketika permintaan meningkat, daerah pencarian teripang juga semakin jauh. Perairan Australia Utara menyediakan sumber daya yang cukup besar. Karena itu, perjalanan panjang tetap dianggap layak secara ekonomi.
Padewakang harus membawa lebih dari sekadar awak kapal. Di dalamnya terdapat makanan, air, perlengkapan kerja, dan peralatan pengolahan. Selain itu, ruang muatan harus tersedia untuk membawa hasil kembali ke Makassar.
Perjalanan menuju Marege’ sebenarnya hanya satu bagian dari rantai perdagangan yang panjang. Teripang dari Australia dibawa ke Makassar, lalu diteruskan menuju pasar Asia. Dengan demikian, pantai Australia Utara terhubung dengan konsumen yang berada sangat jauh di utara.
Kapal Berubah Menjadi Basis Kerja
Setelah mencapai Arnhem Land, fungsi padewakang ikut berubah. Kapal yang sebelumnya menjadi alat transportasi kini menjadi basis bagi kegiatan selama beberapa bulan.
Para pencari teripang bergerak di sepanjang pantai dan perairan dangkal. Mereka mengumpulkan hasil menggunakan berbagai metode sesuai kondisi setempat. Ketika satu kawasan mulai berkurang hasilnya, kelompok dapat berpindah ke lokasi lain.
Namun, pekerjaan tidak berhenti setelah teripang dikumpulkan. Hasil tersebut harus diproses agar tahan selama perjalanan kembali. Karena itu, kegiatan di Marege’ lebih tepat dipahami sebagai proses produksi musiman.
Padewakang menghubungkan berbagai lokasi kerja tersebut. Kapal membawa manusia, peralatan, makanan, dan hasil produksi dari satu titik ke titik lain. Dalam konteks ini, daya angkut menjadi sama pentingnya dengan kemampuan berlayar.
Pantai Australia Menjadi Tempat Produksi
Teripang yang baru dikumpulkan tidak dapat langsung dimasukkan ke ruang muatan. Hasil tersebut harus diolah terlebih dahulu agar tahan dalam perjalanan panjang.

Para pelaut Makassar mendirikan tempat kerja sementara di sepanjang pantai. Teripang dibersihkan, direbus, kemudian melalui beberapa tahap pengolahan lanjutan. Setelah itu, hasil dapat dikeringkan atau diasapkan.
Bangunan sederhana digunakan sebagai tempat kerja dan pengasapan. Bekas tungku, pecahan keramik, koin, dan artefak lain kemudian ditemukan di sejumlah lokasi. Temuan tersebut menjadi bagian penting dari bukti arkeologis mengenai aktivitas Makassar di Australia Utara.
Dengan demikian, pelayaran ke Marege’ bukan sekadar perjalanan mencari hasil laut. Para pelaut membawa sistem produksi lengkap ke lokasi yang jauh dari pelabuhan asal. Padewakang menjadi tulang punggung logistik dari kegiatan tersebut.
Ketika Dua Dunia Bertemu
Pelayaran Makassar juga mempertemukan para awak dengan masyarakat Aboriginal Australia. Mereka telah tinggal di wilayah tersebut jauh sebelum kedatangan pelaut dari Sulawesi.
Hubungan yang terbentuk tidak selalu sederhana. Ada perdagangan, kerja bersama, pertukaran barang, dan hubungan sosial. Namun, konflik juga dapat terjadi pada waktu dan tempat tertentu.
Karena itu, hubungan Makassar dan masyarakat Aboriginal tidak tepat jika digambarkan selalu harmonis. Meski demikian, interaksi yang berlangsung berulang meninggalkan jejak yang nyata. Bukti tersebut muncul dalam sejarah lisan, bahasa, seni cadas, dan temuan arkeologis.
Selain itu, beberapa orang Aboriginal diketahui ikut berlayar menuju Makassar dan wilayah lain di Nusantara. Kontak tersebut membuat padewakang memiliki arti yang lebih luas daripada sekadar kapal dagang. Kapal menjadi sarana perpindahan manusia, bahasa, barang, dan pengalaman.
Kembali ke Makassar dengan Muatan dari Selatan
Ketika musim berubah sekitar Maret atau April, kegiatan di pantai harus segera diselesaikan. Angin tenggara mulai menyediakan kondisi untuk perjalanan kembali ke utara.

Pada tahap ini, fungsi padewakang kembali berubah menjadi kapal angkut. Ruang yang sebelumnya membawa perbekalan kini diisi hasil olahan teripang. Muatan tersebut kemudian dibawa kembali ke Makassar.
Namun, perjalanan ekonomi belum selesai ketika kapal tiba di pelabuhan. Teripang masih harus masuk ke jaringan perdagangan yang melibatkan pemilik modal, nakhoda, awak, dan pedagang. Makassar berfungsi sebagai penghubung antara Australia Utara dan pasar Asia.
Pada abad ke-19, skala kegiatan tersebut berkembang cukup besar. Puluhan perahu dapat mengunjungi pantai Australia dalam satu musim. Jumlah awak yang terlibat juga dapat mencapai lebih dari seribu orang pada periode tertentu.
Angka tersebut merupakan estimasi, bukan jumlah tetap setiap tahun. Meski demikian, skalanya menunjukkan bahwa kegiatan ini bukan petualangan sporadis. Sebaliknya, ia telah berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang terorganisasi.
Padewakang Bukan Sekadar “Pinisi Sebelum Pinisi”
Membandingkan padewakang dengan pinisi memang sulit dihindari. Pinisi jauh lebih dikenal oleh publik saat ini. Namun, menyebut padewakang hanya sebagai versi lama pinisi terlalu menyederhanakan sejarah.
Padewakang memiliki fungsi dan tradisi teknologinya sendiri. Sementara itu, istilah pinisi terutama berkaitan dengan konfigurasi layar dan tradisi perkapalan yang berkembang kemudian.
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kebutuhan perdagangan berubah. Sistem layar dan desain kapal juga terus berkembang. Akibatnya, bentuk kapal di Sulawesi Selatan ikut beradaptasi.
Padewakang perlahan menghilang dari pelayaran aktif. Sementara itu, kapal dengan sistem layar yang lebih baru semakin umum digunakan. Perubahan semacam ini sebenarnya wajar dalam sejarah maritim.
Kapal bertahan selama desainnya masih sesuai dengan kebutuhan. Ketika kondisi berubah, teknologi pun ikut menyesuaikan. Padewakang menjadi penting karena pernah menjadi salah satu jawaban terbaik pada zamannya.
Kapal yang Hilang, Lalu Dibangun Kembali
Pada abad ke-20, padewakang hampir tidak lagi terlihat dalam bentuk operasionalnya. Foto, gambar, catatan sejarah, dan pengetahuan pembuat kapal kemudian menjadi sumber utama untuk memahaminya.
Sejumlah proyek rekonstruksi mencoba menghidupkan kembali kapal tersebut. Salah satunya adalah Hati Marege, yang dibangun pada akhir 1980-an. Proyek itu menelusuri kembali hubungan pelayaran antara Sulawesi dan Australia.
Kemudian, pada 2019, padewakang Nur Al Marege kembali dibangun di Tana Beru, Bulukumba. Pembangunannya memanfaatkan dokumentasi lama dan pengetahuan pembuat kapal lokal.

Tentu saja, rekonstruksi modern tidak menjamin setiap detailnya identik dengan kapal dua abad sebelumnya. Namun, proyek seperti ini membantu memahami teknologi yang tidak sepenuhnya dapat dibaca dari gambar.
Selain itu, pelayaran rekonstruksi memberi informasi tentang perilaku kapal di laut. Kita dapat melihat bagaimana layar digunakan, ruang dimanfaatkan, dan kapal merespons angin. Dengan demikian, rekonstruksi menjadi salah satu cara untuk menguji kembali pengetahuan historis.
Jejak yang Masih Berlayar
Padewakang menunjukkan bahwa perjalanan laut tidak pernah hanya bergantung pada keberanian awak. Bentuk lambung, kapasitas muatan, sistem layar, musim, perbekalan, rute, dan tujuan ekonomi harus bekerja sebagai satu kesatuan.
Para pelaut Makassar tidak mencoba mengalahkan muson. Sebaliknya, mereka membangun pola perjalanan yang mengikuti perubahan angin. Mereka berangkat ketika kondisi mendukung, bekerja selama musim memungkinkan, lalu kembali ketika arah angin berubah.
Pada saat yang sama, padewakang menghubungkan wilayah yang berjauhan. Kapal dibuat di Sulawesi, berlayar melewati Laut Timor dan Arafura, lalu mendukung pekerjaan di Australia Utara. Setelah itu, hasil pelayaran masuk ke jaringan perdagangan yang menjangkau Tiongkok.
Prinsip tersebut masih mudah dikenali dalam dunia maritim modern. Teknologi memang telah berubah, tetapi operasi kapal tetap bergantung pada kesesuaian banyak unsur. Kapal, muatan, rute, cuaca, manusia, dan tujuan perjalanan harus bekerja secara selaras.
Padewakang pernah menjalankan fungsi itu dengan teknologi pada zamannya. Dengan mengikuti angin muson, kapal dari Sulawesi Selatan ikut membentuk salah satu hubungan maritim lintas benua paling menarik dalam sejarah kawasan.

Berfokus pada digital marketing dan pengembangan konten di PT Dok Pantai Lamongan. Melalui berbagai artikel, membagikan informasi dan insight seputar galangan kapal, ship repair, teknologi kapal, serta perkembangan industri maritim Indonesia.